CHCNAV AlphaAir 6: LiDAR Compact untuk Pemetaan Udara dengan Drone
CHCNAV AlphaAir 6 (AA6) hadir membawa perkembangan terbaru dalam teknologi airborne LiDAR. Dengan desain yang semakin compact dan bobot hanya 1,35 kg, sistem ini memungkinkan surveyor melakukan pemetaan udara menggunakan drone dengan kemampuan LiDAR dan imaging dalam satu payload.
Perkembangan ini menunjukkan bagaimana teknologi LiDAR terus berevolusi. Jika dahulu sistem LiDAR membutuhkan perangkat besar dan platform udara seperti pesawat untuk pekerjaan airborne mapping, kini teknologi tersebut semakin ringan dan dapat diintegrasikan dengan UAV atau drone.
Lalu, apa saja kemampuan CHCNAV AlphaAir 6 dan apa manfaatnya untuk pekerjaan surveyor?
Dari LiDAR Besar hingga LiDAR yang Bisa Dibawa Drone
Teknologi LiDAR atau Light Detection and Ranging bekerja dengan memanfaatkan pulsa laser untuk mengukur jarak antara sensor dan objek di permukaan bumi.
Teknologi ini telah digunakan selama puluhan tahun untuk berbagai kebutuhan, termasuk penelitian atmosfer, pemetaan topografi, kehutanan, dan pemetaan dari udara.
Salah satu sistem LiDAR awal yang terkenal adalah SRI Mark I, yang dikembangkan oleh Stanford Research Institute pada 1963 untuk penelitian atmosfer. Seiring perkembangan teknologi, LiDAR kemudian semakin banyak digunakan pada platform airborne seperti pesawat untuk melakukan pemetaan dari udara.
Kini, perkembangan teknologi sensor, laser, IMU, kamera, dan sistem pemrosesan membuat perangkat LiDAR dapat dibuat jauh lebih compact.
Salah satunya adalah CHCNAV AlphaAir 6.
Apa Itu CHCNAV AlphaAir 6?
CHCNAV AlphaAir 6 adalah sistem airborne LiDAR dan imaging yang dirancang untuk kebutuhan pemetaan udara menggunakan UAV.
AA6 menggabungkan kemampuan LiDAR dengan sistem imaging dalam satu payload. Dengan begitu, surveyor tidak hanya mendapatkan informasi tiga dimensi dari point cloud LiDAR, tetapi juga data visual yang dapat membantu proses interpretasi hasil pemetaan.
Dengan bobot sekitar 1,35 kg, AA6 menawarkan kombinasi antara kemampuan pemetaan, jangkauan pengukuran, kepadatan point cloud, dan imaging dalam perangkat yang relatif ringan.
1. Bobot Hanya 1,35 kg
Salah satu hal yang paling menarik dari AlphaAir 6 adalah dimensinya yang compact dengan bobot hanya 1,35 kg.
Bagi surveyor drone, bobot payload merupakan salah satu faktor penting. Payload yang lebih ringan memberikan fleksibilitas lebih besar dalam memilih platform UAV dan merencanakan misi penerbangan.
Dengan AA6, kemampuan LiDAR untuk pekerjaan pemetaan dapat dibawa menggunakan drone tanpa membutuhkan sistem airborne berukuran besar seperti generasi teknologi sebelumnya.
Kecil ukurannya, tetapi serius untuk pekerjaan surveying.
2. LiDAR dengan Jangkauan hingga 2.100 Meter
CHCNAV AlphaAir 6 memiliki maximum ranging capability hingga 2.100 meter pada kondisi reflektivitas tertentu.
Angka ini menunjukkan kemampuan sensor dalam melakukan pengukuran terhadap objek pada jarak yang sangat jauh.
Untuk pekerjaan surveyor, kemampuan long-range dapat menjadi keuntungan ketika melakukan pemetaan pada area luas, medan berbukit, atau lokasi dengan perubahan elevasi yang signifikan.
Namun, penting untuk membedakan antara LiDAR ranging capability dan ketinggian terbang drone. Angka 2.100 meter merupakan kemampuan pengukuran LiDAR, bukan berarti drone harus atau dapat terbang setinggi 2.100 meter.
Dalam operasi pemetaan, ketinggian penerbangan perlu mengikuti spesifikasi platform UAV, regulasi penerbangan, kondisi lokasi, serta kebutuhan Ground Sampling Distance dan point density.
3. High-Grade IMU untuk Menjaga Kualitas Data
Selain LiDAR, AA6 dilengkapi high-grade IMU dengan bias stability hingga 0,3°/jam.
IMU berperan penting dalam mengetahui orientasi dan pergerakan sensor ketika drone terbang.
Mengapa ini penting?
Ketika drone bergerak, sensor terus mengalami perubahan posisi dan orientasi. Sistem navigasi dan positioning yang baik membantu memastikan data LiDAR yang dikumpulkan dapat diproses menjadi point cloud dengan posisi yang akurat.
Hal ini sangat berguna ketika surveyor bekerja pada:
- Area berbukit
- Area dengan perubahan elevasi
- Koridor panjang
- Area pemetaan yang luas
- Medan dengan kondisi kompleks
Jadi, dalam pekerjaan LiDAR, bukan hanya jumlah laser yang penting. Bagaimana sensor mengetahui posisi dan orientasinya selama terbang juga sangat menentukan kualitas data.
4. Point Cloud hingga 1 Juta Titik per Detik
Salah satu spesifikasi yang menarik dari AlphaAir 6 adalah kemampuannya menghasilkan hingga 1.000.000 titik per detik pada kondisi tertentu.
Point cloud merupakan kumpulan titik tiga dimensi yang menggambarkan permukaan dan objek yang terdeteksi oleh LiDAR.
Semakin banyak titik yang berhasil dikumpulkan dalam area tertentu, semakin kaya informasi spasial yang dapat diperoleh.
Dalam praktiknya, point cloud dengan kepadatan tinggi dapat membantu surveyor mendapatkan informasi lebih detail mengenai:
- Bentuk permukaan tanah
- Kontur
- Vegetasi
- Struktur dan objek di permukaan
- Kondisi koridor
- Area dengan medan kompleks
Namun, point per second (PPS) tidak sama dengan point density. Kepadatan titik juga dipengaruhi oleh ketinggian terbang, kecepatan drone, pola penerbangan, dan parameter akuisisi lainnya.
Karena itu, saat memilih LiDAR, surveyor sebaiknya tidak hanya melihat angka PPS, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan point density dan karakteristik proyek.
5. Imaging hingga 100 MP
AA6 tidak hanya mengandalkan LiDAR.
Sistem ini juga dilengkapi sensor 4/3-inch CMOS dengan kemampuan imaging hingga 100 MP, serta opsi 25 MP.
Kombinasi ini membuat satu payload dapat menghasilkan dua jenis informasi:
LiDAR → informasi 3D
Imaging → informasi visual
Bagi surveyor, data visual dapat membantu proses interpretasi dan dokumentasi hasil pemetaan.
Dengan demikian, kebutuhan untuk membawa sistem kamera tambahan dapat dikurangi, tergantung pada kebutuhan proyek dan spesifikasi platform yang digunakan.
6. Cocok untuk Berbagai Kebutuhan Pemetaan
Dengan kombinasi LiDAR, high-grade IMU, dan imaging, AlphaAir 6 dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan aerial surveying dan mapping.
Beberapa contohnya adalah:
Topographic Mapping
LiDAR dapat digunakan untuk memperoleh informasi mengenai bentuk dan elevasi permukaan tanah, termasuk pada area yang memiliki vegetasi.
Corridor Mapping
Untuk proyek jalan, rel, jaringan listrik, pipeline, dan koridor lainnya, UAV LiDAR dapat membantu mengumpulkan data sepanjang jalur dengan lebih efisien.
Forestry dan Vegetation Survey
Kemampuan LiDAR dalam menembus celah vegetasi dapat membantu memperoleh informasi mengenai kondisi terrain dan struktur vegetasi.
Pemetaan Area dengan Medan Kompleks
Pada area berbukit atau lokasi yang sulit dijangkau surveyor secara langsung, pemetaan menggunakan UAV LiDAR dapat menjadi alternatif yang menarik.
LiDAR Drone: Bukan Sekadar Membuat Alat Lebih Kecil
Perkembangan LiDAR dari sistem besar hingga sensor yang dapat dibawa drone bukan hanya soal ukuran.
Yang berubah adalah cara surveyor melakukan pekerjaan.
Drone memungkinkan sensor LiDAR menjangkau area yang luas dengan lebih fleksibel, sementara teknologi sensor yang semakin compact membuat sistem tersebut lebih mudah dioperasikan.
Dengan AlphaAir 6, kemampuan LiDAR + imaging + high-grade IMU dikemas dalam payload sekitar 1,35 kg.
Inilah salah satu gambaran bagaimana teknologi surveying berkembang:
LiDAR besar → airborne LiDAR → UAV LiDAR → data semakin detail dalam sistem yang semakin compact.
CHCNAV AlphaAir 6 vs Kebutuhan Surveyor
Bagi surveyor, memilih LiDAR bukan hanya tentang mencari spesifikasi terbesar.
Yang lebih penting adalah mencocokkan kemampuan sensor dengan kebutuhan pekerjaan.
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan antara lain:
Seberapa luas area yang akan dipetakan?
Semakin luas area, semakin penting mempertimbangkan coverage, flight time, dan efisiensi akuisisi.
Seberapa detail point cloud yang dibutuhkan?
Proyek berbeda membutuhkan point density yang berbeda. Jangan hanya melihat angka maksimal PPS, tetapi pertimbangkan juga ketinggian dan kecepatan penerbangan.
Bagaimana kondisi medannya?
Area datar, perkotaan, hutan, dan pegunungan memiliki tantangan yang berbeda.
Apakah membutuhkan data visual sekaligus?
Jika iya, kombinasi LiDAR dan imaging seperti pada AA6 dapat menjadi pilihan yang menarik.
Sudah Punya LiDAR? Bisa Upgrade dengan Program Tukar Tambah
Buat surveyor atau perusahaan yang sudah memiliki perangkat LiDAR, upgrade ke teknologi baru tidak selalu berarti harus membeli perangkat dari awal.
Geometri Indonesia menyediakan program tukar tambah CHCNAV AlphaAir 6 Single untuk perangkat LiDAR tertentu.
Program ini dapat menjadi opsi bagi pengguna yang ingin meningkatkan kemampuan perangkat surveying mereka ke sistem LiDAR yang lebih compact dan modern.
Tersedia pula promo hingga 40% OFF serta bonus CoPre & CoProcess Permanent License, sesuai syarat dan ketentuan program yang berlaku.
Kesimpulan
CHCNAV AlphaAir 6 menunjukkan bagaimana teknologi LiDAR terus berkembang menuju sistem yang lebih compact, ringan, dan terintegrasi.
Dengan bobot 1,35 kg, kemampuan ranging hingga 2.100 meter, high-grade IMU, point cloud hingga 1 juta titik per detik, serta imaging hingga 100 MP, AA6 menawarkan kombinasi kemampuan yang menarik untuk kebutuhan aerial surveying menggunakan UAV.
Bagi surveyor yang mengerjakan topographic mapping, corridor mapping, forestry, vegetation survey, maupun pemetaan area kompleks, teknologi UAV LiDAR dapat membantu membuka cara kerja yang lebih fleksibel.
Dulu LiDAR membutuhkan sistem besar. Sekarang, kemampuan LiDAR bisa ikut terbang bersama drone.
Dan AlphaAir 6 adalah salah satu contohnya.
Tertarik dengan CHCNAV AlphaAir 6?
Ingin mengetahui harga, spesifikasi lengkap, simulasi tukar tambah, atau rekomendasi LiDAR yang sesuai dengan kebutuhan proyekmu?
Hubungi Geometri Indonesia sekarang.
Leave a Comment